, 05 September 2010
  Edisi 
 
Cari
Bulan
Tahun
 
Pasien Terserang Stroke Tak Lagi Kehilangan Periode Emas
Keberadaan unit stroke di rumah sakit tak lagi sekadar pelengkap, tetapi sudah menjadi keharusan, terlebih bila melihat angka penderita stroke yang terus meningkat dari tahun ke tahun di Indonesia. Karena penanganan stroke yang cepat, tepat dan akurat akan meminimalkan kecacatan yang ditimbulkan.

Keberadaan unit stroke di rumah sakit tak lagi sekadar pelengkap, tetapi sudah menjadi keharusan, terlebih bila melihat angka penderita stroke yang terus meningkat dari tahun ke tahun di Indonesia. Karena penanganan stroke yang cepat, tepat dan akurat akan meminimalkan kecacatan yang ditimbulkan.

Berdasarkan pengalaman itu, RS dr Soetomo Surabaya sejak tahun lalu merintis pendirian unit stroke dalam salah satu layanan kesehatannya. Melihat jumlah pasien yang terus meningkat, unit stroke dr Soetomo kini menempati bangsal khusus dengan kapasitas hingga lima belas tempat tidur.
Bangsal khusus itu juga dilengkapi dengan sarana rehabilitasi dini dengan rasio satu tenaga paramedik berbanding satu penderita. Dengan demikian, pelayanan yang diberikan bisa labih optimal. Dengan diresmikannya Unit Stroke RSUD dr Soetomo oleh Wakil Ketua Umum Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) Pusat Prof Dr Haryono Suyono, pasien yang terserang stroke tidak lagi kehilangan periode emas (yaitu penanganan di bawah 6 jam pasca serangan stroke).
?Sebagai Pengurus Pusat Yastroki, saya mendorong para pengurus Yastroki Cabang Jawa Timur untuk senantiasa gencar membantuk klub stroke berbasis masyarakat. Karena biasanya keluarga atau masyarakat itulah yang mengetahui pertama kali seseorang menderita suatu penyakit. Dengan mengetahui gejalanya, masyarkat bisa langsung membawa penderita ke rumah sakit begitu mendapati gejala seperti stroke,? kata Haryono Suyono.
Jadi, bila ada salah satu anggota keluarga atau tetangganya menderita kebas di wajah dan tangan, kepala pusing luar biasa, atau mata buram, anggap saja itu sebagai gejala stroke dan segera larikan ke unit stroke. Karena kesembuhan stroke ditentukan oleh kecepatan penanganan dan pengobatan, kalau setelah di rumah sakit ternyata bukan stroke tidak apa-apa yang penting sudah mendapat penanganan di rumah sakit.
Cepat tanggap terhadap stroke juga harus dimiliki oleh paramedis di rumah sakit. Percuma saja di bawa ke rumah sakit, kalau tenaga kesehatan yang ada di rumah sakit tidak tanggap terhadap penyakit ini, sehingga periode emas penanganan stroke yang hanya tiga atau empat jam hilang dengan begitu saja. ?Untuk mengantisipasi masalah itu Yastroki di Jakarta telah menandatangani suatu kerja sama dengan ambulance 118, untuk menangani dengan segera, berupa pertolongan pertama pada pasien stroke,? ungkap mantan Menko Kesra dan Taskin ini.
Hal lain yang digagas Yastroki Pusat adalah pembuatan kartu plastik - mirip dengan kartu kredit ? bagi sejumlah masyarakat yang memiliki kecenderungan atau di dalam dirinya ada faktor pemicu timbulnya serangan stroke; seperti hipertensi, diabetes melitus dan sebagainya. Dengan mereka memiliki kartu tersebut, begitu ada gejala terserang stroke, ia tinggal menunjukkan kartu tersebut kepada pertugas di Unit Gawat Darurat (UGD) rumah saki, sehingga pelayanan pelayanan yang diberikan lebih cepat, tepat dan akurat sesuai dengan gejala awal yang mengiringinya.
Untuk tahap awal, kartu ini hanya diperuntukkan bagi mereka menderita hipertensi atau darah tinggi, yang selama ini dianggap sebagai penyebab terbanyak terjadinya stroke di Indonesia (Silent Killer Deseas).
Direktur Utama RSUD Dr Sutomo Surabaya dr Slamet Riyadi Yuwono mengatakan, Unit Perawatan Stroke di RSUD dr Sutomo dibuat dengan mencontoh keberhasilan perawatan intensif penyakit jantung koroner (ICCU). Unit ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas canggih, antara lain pemantau intensif barbagai fungsi fisiologik.
?Dengan fasilitas pemeriksaan yang canggih, pemantauan yang ketat dan perawatan yang sangat intensif diharapkan acute neurovaskuler intensive care unit itu mampu menurunkan angka kematian penderita stroke akut,? katanya.
Bukan hanya itu, perawatan penderita di unit stroke dikendalikan oleh tim yang multidisipliner (TMD) yang terdiri dari dokter, perawat, fisioterapist, terapist wicara/bahasa, terapist okupasi, pekerja sosial dan ahli gizi. Dokter spesialis saraf juga tidak bekerja sendiri tapi dengan tim dari disiplin ilmu lain, seperti Rehabilitasi medfik dan lain sebagainya. RIS

Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
:: Artikel sebelumnya
>> 7 Tahapan Terapi Stroke Akut
>> Hadi Sumarsono Terus Jalani Pengobatan untuk Hindari Stroke Susulan
>> Angklung Salah Satu Terapi Penderita Stroke
>> Perhatian Pemerintah Terhadap Penyakit Degeneratif Kurang
>> Rawan Stroke di Indonesia Meningkat 10 Kali
>> NAMA KLUB STROKE DI JABODETABEK
>> Ketua Umum Yastroki Laksamana TNI (Purn) Sudomo:
Stroke Bisa Ganggu Sosial Ekonomi Keluarga
>> MEMBANGUN BUDAYA HIDUP SEHAT
>> “GELIS”
GERAKAN PEDULI STROKE
>> KESEMPATAN BARU BAGI PENDERITA GAGAL GINJAL

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra

Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Yastroki : redaksi@yastroki.or.id
Copyright © 2003 Yastroki.or.id
design by Visionnet