Rabu, 27 Agustus 2014
  Edisi 
 
Cari
Bulan
Tahun
 
Zaenuddin, Ketua Klub Stroke RS Islam Jakarta (RSIJ) Stroke Ini Merupakan Teguran Allah
Bagi Zaenuddin, Ketua Klub Stroke RS Islam Jakarta (RSIJ), yang mantan Sekertaris Persatuan Golf Indonesia, stroke yang dialaminya sekarang ini merupakan teguran dari Allah SWT agar dirinya meningkatkan iman dan takwa serta menjadikan dirinya menjadi lebih dekat dengan sang pencipta.

Bagi Zaenuddin, Ketua Klub Stroke RS Islam Jakarta (RSIJ), yang mantan Sekertaris Persatuan Golf Indonesia, stroke yang dialaminya sekarang ini merupakan teguran dari Allah SWT agar dirinya meningkatkan iman dan takwa serta menjadikan dirinya menjadi lebih dekat dengan sang pencipta.

Meski saat ini sebagian anggota badannya sebelah kiri mengalami kelumpuhan, karena otak bagian kanannya mengalami gangguan sehingga mengalami stroke, tidak menyebabkan dirinya menjadi seorang yang tidak mandiri dan apatis menjalani hidup ini. Hal itu justru memicu semangatnya untuk dapat berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, khususnya insan paska stroke (IPS).
Dengan sepeda motor khusus untuk orang stroke yang dibelinya dari Taiwan, ia dapat mengerjakan segala sesuatunya sendiri baik latihan ke RSIJ Pusat, Cempaka Putih, maupun belanja ke sebuah supermal yang ada di kawasan ini yang kebetulan dekat dengan rumahnya, tanpa harus meminta bantuan orang lain.
Stroke yang dialami Zaenuddin ini sebenarnya tidak lepas dari gaya hidup dan pola makan yang dijalani semasa sehat. Maklum pada waktu itu dirinya merupakan salah seorang pengusaha yang cukup sukses sehingga selalu mengonsumsi makanan yang banyak mengandung lemak dan kolesterol. Sedangkan olah raga hanya golf, karena waktu itu dirinya menjabat sebagai Sekertaris Persatuan Golf Indonesia.
?Akibat gaya hidup yang kurang gerak dan pola makan yang kurang baik, tanpa saya sadari rupanya di dalam tubuh saya ada hipertensi yang merupakan penyebab terbanyak serangan stroke di Indonesia. Bukan hanya itu, salah satu kekeliruan saya adalah tidak pernah mau melakukan general chek up,? kata Zaenuddin.
Siapa sangka kalau perilakunya yang tidak mau check up padahal justru mengakibatkan dirinya mengalami kelumpuhan pada anggota tubuh sebelah kiri, karena serangan stroke yang menimpanya sekitar tahun 2000 lalu. ?Stroke yang menimpa saya disebabkan Emboli (penyumbatan) darah pada otak sebelah kiri,? kata Zaenuddin.
Sebelum terjadi penyumbatan pada otak sebelah kiri yang menyebabkan kelumpuhan pada anggota tubuh sebelah kanan, ia pernah mengalami Trans Iskemick Attack (TIA) namun hanya berlangsung sejenak, setelah pulang ia sehat kembali. ?Kondisi ini saya anggap biasa, dan tidak saya tindak lanjuti dengan pengobatan yang serius, karena pada waktu itu saya belum mengerti kalau apa yang saya alami merupakan suatu gejala serangan stroke. Kejadian itu tidak membuat saya waspada,? ujarnya.
Pada saat masuk rumah sakit tekanan darahnya cukup tinggi, di atas 180, di ruang UGD setelah mendapat pemeriksaan dari dokter jaga, dan mendapat perawatan seperlunya ia dipindah ke ruang perawatan. Setelah masuk ruang perawatan ia merasa diri sangat sehat, baru keesokan harinya sebelah anggota tubuh tidak dapat digerakkan.
?Saya sudah kehilangan Golden Periode, akibatnya saya harus mengalami kelumpuhan sebelah kanan selama seumur hidup. Kalau ditanya perasaan sebenarnya, saya sangat kecewa. Namun dorongan istri dan keluarga yang begitu besar, keadaan ini tidak membuat saya berkecil hati bahkan memacu semangat saya dapat hidup mandiri,? ungkapnya.
Sepulang dari rumah sakit, Zaenuddin masih tetap menjalankan aktivitas hidup seperti biasa meski usia sudah kepala enam. Untuk menunjang proses rehabilitasi ia juga aktif menjadi Ketua Klub Stroke Rumah Sakit Islam Jakarta Pusat tempatnya di rawat.
Bagi IPS dukungan keluarga dalam membantu mempercepat proses pemulihan sangat besar artinya. Terlebih ketika pertama kali dirawat, perasaan sedih karena ketidakberdayaan, serta kesepian akan menyelimuti setiap IPS. Karenanya dengan hadirnya keluarga akan mampu menciptakan suasana gembira di hati IPS.
Mereka akan merasa selalu diperhatikan oleh anggota keluarga yang lain dan tidak merasa ditinggalkan. Keberadaan keluarga di samping IPS dirasakan cukup membantu proses penyembuhan, tentunya dengan diiringi doa dan proses rehabilitasi yang harus dijalani IPS Budi Kusumanto

Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
:: Artikel sebelumnya
>> Stroke Sama Sekali Tidak Mengindahkan Usia
>> Yastroki Pusat Kerja Sama RSPAD Gatot Subroto Selenggarakan Pelatihan Pengasuh IPS
>> Acara Seminar Awam
Peranan Gigi Pada Kecantikan
>> Dari Peringatan Hari Stroke Sedunia di RS Dr Kariadi Semarang:
Setiap 3 Hari 1 Penduduk Indonesia
>> Usia Muda Perlu Tahu Informasi Penyakit Stroke
>> Peran dan Kiprah Yayasan Stroke Indonesia
>> Pedoman Praktis Insan Pasca Stroke
>> Mengenal Gejala dan Kiat Mencegah Stroke
>> Warning Sign of a Stroke
>> Penilaian Resiko Stroke

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra

Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Yastroki : redaksi@yastroki.or.id
Copyright © 2003 Yastroki.or.id
design by Visionnet